Plat merah lintas pulau
jaga motor biar nda terbalik...



Takabonerate Islands Expedition V Kab.  Kep.  Selayar

"Diving Exhibiton & UW Photography Competition TIE V"

Seiring dengan masuknya musim barat, gelombang tinggi sudah menjadi hal yang biasa dijumpai di lautan termasuk di perairan Kep. Selayar, menurut BMKG Maritim ketinggian ombak di perairan ini antara 2 s/d 3 meter tapi disaat-saat tertentu bisa mencapai ketinggian 4 meter lebih (sumber http://maritim.bmkg.go.id/index.php/main/gelombang_rata_mingguan)
Dampaknya penyebrangan dari dan akan ke Kep. Selayar terganggu apalagi kalau cuaca semakin memburuk, Kapal Ferry ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan) bisa berhari-hari tidak berlayar. akibatnya sembako melambung tinggi, Gas semakin langka dipasaran, BBM sudah mulai mengikuti langkah si Gas.
tapi ini bukan hambatan untuk tetap beraktifitas kawan hehehehehe.


jika Gas dirumah habis, masih ada trangia (kompor portable dengan bahan bakar spiritus) lumayan bisa masak indomie dan kopi hehehehe










trus jika BBM sudah langka dan tangki bensin Si kuda merah habis, gilirannya Si kuda putih yang unjuk gigi..

jika bahan-bahan dapur harganya meroket semisalnya bawang merah dan bawang putih, bisa ditaktisi dengan daun bawang yang secara teori sama-sama bawang. dipasaran harganya dua ribu, sudah cukup buat campuran indomie, telur, dan nasi goreng selama seminggu. Untuk lombok bijix tinggal petik dihalaman belakang kantor, gratissss hehehehehe

Nah yang paling mantap jika persedian kopi sudah habis, tinggal ke kantor saja karena persedian disana cukup untuk setahun. Sudah bisa ngopi gratis + online sampai capek hehehehehehe

                                                                       *****




















































Ada orang yang bertanya kopi apa yang paling enak di dunia?
saya jawab: kopi hitam tanpa embel-embel ini itu apalagi jika sudah di mix atau dicampur dengan berbagai macam rasa dan bentuk di toppingx, itu namax kopi jadi-jadian hehehehehe
kemudian pertanyaannya muncul kembali, kopi hitam itukan macam-macam dan berasal dari berbagai daerah, trus mana yang paling enak?
saya jawab sekali lagi dengan mantap: kopi hitam itu yang bikin enak bukan dari racikanx atau berasal dari daerah tertentu apalagi dari jenis kopinya tapi dimana kita berada pada saat menyeruput kopi hitamnya.










walaupun cuma kopi jagung(kopi yang lebih banyak ampasx dari pada kopinya sendiri hehehehe) yang diseruput dipagi hari di lembah Ramma...
























atau kopi Toraja yang digiling manual yang kami seruput disaat tubuh mulai kedinginan dipuncak Gunung Sesean Toraja...








atau kopi hitam lokal, kopi yang menemaniku disaat menikmati sunset di pulau Tinabo.



dan lebih terasa nikmatnya menyeruput kopi jika kau berada disisiku dalam kesederhanaan dengan senyummu yg nakal hehehehehe
                                                                              ***





PULAU Selayar yang bentuknya memanjang dengan orientasinya utara-selatan, terletak di sebelah selatan Semenanjung Bira di Pulau Sulawesi, dipisahkan oleh Selat Bira selebar +- 7.5 km. Posisi tersebut telah menempatkan Selayar sebagai kabupaten paling selatan di Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada masa Selayar menjadi daerah kekuasaan Gowa (awal abad ke-17) daerah ini merupakan jalur perdagangan yang melawan pelabuhan Tuban, Gresik, Surabaya, India, dan Asia Selatan. Sejak perjanjian Bongaya tahun 1667 antara Gowa dan Belanda, Selayar menjadi daerah kekuasaan Belanda (VOC). Perjanjian ini dilatari oleh maksud Belanda untuk mengambil alih monopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia bagian timur; menguasai jalur perdagangan keramik melalui Philipina, kepulauan Nusantara, Afrika Timur, Timur Tengah; dan sekaligus Eropa. Dapat dikatakan bahwa sejak dikuasai Belanda, peranan Selayar menjadi semakin penting.
Sumber-sumber tertulis mengenai Selayar masih sangat sedikit ditemukan, namun dalam Negarakrtagama pupuh XIV disebutkan bahwa pada abad ke-13 Selayar merupakan salah satu wilayah kekuasaan Majapahit dan bahkan telah ikut dalam percaturan sejarah. Hal ini membuktikan bahwa sejak saat itu Selayar telah mempunyai hubungan dengan daerah luar. Mungkin hubungan itu telah ada sejak masa prasejarah, khususnya dengan Asia. Dugaan ini didasarkan atas temuan nekara perunggu yang kemungkinan berasal dari Indocina.

Nekara Selayar terbuat dari logam perunggu yang saat ini tersimpan di daerah Bonto Bangun (Matalalang). Nekara ini merupakan nekara yang besar dan indah dengan ukuran tinggi 92 cm dan garis tengah bidang pukul berukuran 126 cm. Seluruh permukaan bidang pukul dihiasi dengan pola hias geometris. Di bagian tengah dihiasi dengan pola hias bintang bersudut 16 dan di tepinya terdapat hiasan berbentuk 4 ekor katak, yang masing-masing panjangnya 20 cm dengan badan bergaris-garis dan mata tersembul ke atas, juga hiasan burung merak sedang berdiri ataupun sedang berjalan. Hiasan lainnya adalah bentuk perahu yang sarat dengan pola hias bulu burung. Di bawah perahu terdapat ikan yang sedang berenang. Pada bagian pinggang yang berbentuk silinder terdapat panei-panei yang dihiasi dengan pola hias geometris dalam posisi vertikal, sedang ruang yang terletak di antara dua buah panel penuh dengan pola hias bulu burung dengan posisi vertikal. Pada bagian kaki dijumpai ragam hias yang menarik, dan merupakan pola hias yang sangat spesifik dari nekara Selayar. Hiasan itu terdiri dari motif gajah, pohon kelapa, burung bangau, serta burung-burung kecil yang sedang hinggap di cabang-cabang pohon yang tak berdaun. Pada nekara ini juga terdapat empat pasang telinga atau pegangan, menempel dari bagian bahu ke pinggang serta dihiasi dengan motif tali.
Menurut informasi lisan dari tetua adat dan penduduk setempat, nekara tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penduduk dari Kampung Rea-Rea yang bernama Sabuna pada tahun 1686. Pada saat itu Sabuna sedang mengerjakan sawah Raja Puta Bangung di Papaniohea, tiba-tiba cangkul Sabuna membentur benda keras yang ternyata adalah hiasan katak yang merupakan bagian dari sebuah nekara. Sejak berakhirnya Dinasti Puta Bangung, pada tahun 1760 nekara tersebut dipindahkan ke Bonto Bangung dan menjadi kalompoang/arajang (benda keramat) Kerajaan Bonto Bangung.

Menurut Harun Kadir (1989), legenda mengenai nekara Selayar dikenal dari dua sumber, yang pertama cerita mitos Sawerigading yang berkembang pada periode Galigo, yaitu periode kekuasaan manusia dewa yang mengatur tata tertib dunia, dengan pola kepemimpinan religius kharismatis. Sawerigading ditempatkan sebagai tokoh utama dalam perwujudan tata tertib dan penataan pertama masyarakat Bugis-Makasar di Sulawesi Selatan. Periode Galigo diperkirakan berlangsung sekitar abad ke-7 sampai abad ke-10. Tetapi Christian Pelras menempatkan pada sekitar abad ke-12.
Sumber yang kedua adalah naskah Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (abad 17). Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga. Letaknya sangat strategis bagi pelayaran yang menuju ketimur maupun ke barat. Dengan demikian Selayar menjadi bandar transito bagi lalu lintas pelayaran. Di dalam naskah itu juga disebut tentang “daftar sewa bagi orang yang berlayar dari daerah Makasar ke Aceh, Kedah, Kamboja dengan sewa 7 rial dari tiap seratus (orang) dan apabila naik dari tempat tersebut pergi ke Selayar, Malaka, Johor, sewanya 6 rial dari tiap seratus (orang).”
Dari sumber tersebut memberikan keterangan tentang peranan Selayar dengan daerah-daerah di Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini memperkuat dugaan bahwa nekara Selayar mungkin didatangkan dari daratan Asia Tenggara pada waktu pengaruh kebudayaan Cina berkembang di kawasan itu. Menurut legenda yang berkait dengan nekara Selayar, dikatakan bahwa ketika Sawerigading bersama isterinya (We Cuddai) dan ketiga putranya (La Galigo, Tenri Dio, dan Tenri Balobo) kembali dari Cina, dalam perjalanannya menuju ke Luwu mereka singgah di Pulau Selayar, dan langsung menuju ke suatu tempat yang disebut Puta Bangung dengan membawa sebuah nekara perunggu yang besar. Di tempat itu mereka dianggap sebagai Tumanurung. Pada saat itulah Tenri Dio dianggap menjadi raja pertama di Puta Bangung, dan menempatkan nekara itu sebagai Kalompoang di Kerajaan Puta Bangung.
Dari cerita itu dapat disimpulkan bahwa nekara Selayar dibawa dari Cina oleh Sawerigading. Yang dimaksud dengan Cina disini, mungkin adalah Indo China. Selain itu, masyarakat juga menganggap bahwa hanya ada dua nekara (Gong), yaitu sebuah di Selayar dan sebuah lagi berada di Cina. Nekara yang ada di Selayar dianggap sebagai suami dan yang ada di Cina sebagai isteri. Hal ini mengingatkan kita pada nekara yang dipuja berpasangan di daerah Birma yang dipersonifikasikan sebagai pasangan suami isteri. Nekara yang di atasnya terdapat hiasan katak berukuran lebih tinggi melambangkan pria, sedangkan yang tidak memakai hiasan katak dan berukuran lebih kecil dan rendah melambangkan wanita. Dengan demikian nampak adanya persamaan nilai simbolis dari pendukung kebudayaan perunggu khususnya nekara di Indonesia dan Asia Tenggara.

Dari hasil penelitian, nekara biasanya dihubungkan dengan upacara-upacara yang bersifat religius. Nekara berukuran besar seperti yang ditemukan di Selayar oleh para ahli dikatakan sebagai sarana pemanggilan hujan. Bukan tidak mungkin bahwa nekara tersebut mempunyai fungsi yang lain seperti upacara-upacara perang, upacara penobatan seorang pemimpin masyarakat, upacara mengusir wabah penyakit dan lain-lain.
Harun Kadir (1989), menyatakan bahwa fungsi nekara, selain sebagai alat upacara yang berkaitan dengan aktivitas ritual, juga merupakan lambang status sosial bagi pemiliknya. Di Cina Selatan nekara dapat berfungsi sebagai lambang kekuasaan, seperti halnya di Selayar. Karena menganggap nekara itu sebagai benda keramat (kelompoang/arajang), maka barang siapa yang menyimpan atau memiliki benda tersebut, dialah yang menjadi penguasa di negeri itu. Sampai saat ini masyarakat Bonto Bangung masih juga mempertahankan kehadiran nekara itu di daerahnya, sehingga usaha untuk memindahkan dari Bonto Bangung ke Museum Nekara Tana Doang di Kota Benteng Selayar, tetap diupayakan.

Fungsi nekara sebagai perangkat upacara pelantikan raja dilakukan melalui suatu prosesi. Raja yang dilantik dijunjung oleh masyarakat sambil mengelilingi nekara sebanyak dua belas kali. Sesajian diletakkan di nekara. Pada upacara lain, misalnya untuk memanggil hujan pada musim kemarau panjang dan tanaman sudah terancam kekeringan, maka diadakan upacara meminta hujan dengan memukul nekara. Pemukulan nekara dilakukan oleh raja. Dengan demikian terlihat betapa pentingnya nekara sebagai perangkat upacara yang sangat menentukan tercapainya suatu tujuan upacara. Upacara yang sama juga dilakukan pada beberapa suku bangsa di daratan Asia Tenggara, terutama pada masyarakat agraris.
Keberadaan nekara Selayar seperti halnya dengan nekara yang ditemukan di tempat lain, merupakan jaringan mata rantai dari kebudayaan Dongson yang terbentang dari Vietnam Utara sampai ke Indonesia bagian Timur. Karena itu budaya perunggu di Indonesia selama ini selalu dikaitkan dengan budaya Dongson. Namun tidak diingkari munculnya ciri-ciri lokal yang merupakan tipe khusus Indonesia, seperti nekara Pejeng di Bali.

Di pantai ini terdapat gugusan batu karang yang memanjang sampai keujung selatan pulau Selayar. Di lokasi ini jika air surut, wisatawan dapat berjalan kaki menikmati aneka biota laut yang terjebak digenangan air laut yang surut dan jika air laut sedang pasang, wisatawan akan dimanjakan dengan aktifitas snorkel. Di lokasi ini juga terdapat sebuah Resort yang dibangun diatas batu cadas dengan arsitektur lokal. Lokasi ini terletak 10 km dari Kota Benteng dan dapat diakses selama kurang lebih 15 menit dari kota Benteng.   

Di pantai ini terdapat gugusan batu karang yang memanjang sampai keujung selatan pulau Selayar. Di lokasi ini jika air surut, wisatawan dapat berjalan kaki menikmati aneka biota laut yang terjebak digenangan air laut yang surut dan jika air laut sedang pasang, wisatawan akan dimanjakan dengan aktifitas snorkel. Di lokasi ini juga terdapat sebuah Resort yang dibangun diatas batu cadas dengan arsitektur lokal. Lokasi ini terletak 10 km dari Kota Benteng dan dapat diakses selama kurang lebih 15 menit dari kota Benteng.   


Pantai Bonetappalang berada dibagian timur pulau Selayar dan dapat diakses dari dermaga Pattumbukang dengan menggunakan perahu tradisional/Jolloro selama kurang lebih 20 menit. Pantai  ini memiliki pasir putih sepanjang 600 meter, wisatawan bisa menikmati diving, snorkeling, sun bathing, dan dapat menyaksikan sunrise. Di kawasan ini telah ada sebuah resort (PT Schulteis Dive Resort) yang dikelola oleh investor dengan fasilitas yang cukup memadai. Pantai ini kebanyakan dikunjungi oleh wisatawan dari Eropa Barat pada bulan Oktober sampai dengan Maret Setiap Tahunnya. Keindahan bawah laut dikawasan ini sangat indah, terdapat ribuan spesies ikan laut dan ratusan spesies koral. Kawasan ini juga adalah bagian dari "Taman Surga" yang ada di Kepulauan Selayar karena sangat terjaga kelestariannya dan sangat cocok bagi para pecinta fotografi bawah laut karena arus pada bulan oktober sampai dengan maret, normal. 
Datang dan nikmati "Taman Surga" bawah laut ^_^ 


Para nelayan di pesisir pantai barat Selayar memilih tidak melaut sejak sepekan terakhir. Hal itu disebabkan datangnya "musim barat" yang ditandai gelombang tinggi di sejumlah kawasan perairan yang menjadi daerah penangkapan ikan. Angin Musim Barat/Angin Muson Barat adalah angin yang mengalir dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak, hal ini disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra. Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan. Angin ini terjadi pada bulan Desember, Januari, Februari, dan Maret, puncaknya pada bulan Januari dengan ketinggian gelombang laut 3 m. Akibat dari musim ini, harga ikan laut dipasar tradisional mengalami kenaikan. dilain sisi, nelayan memanfaatkan musim ini dengan memperbaiki kapal/Perahu mereka.

Taka Bonerate adalah sebuah atol (suatu rangkaian pulau karang yang membentuk sebuah lingkaran) terbesar ketiga di dunia dengan luas lebih dari lima ratus tiga puluh ribu hektar. Kawasan yang terletak di laut Flores ini memiliki 21 buah pulau. Taka Bonerate merupakan Taman Nasional yang memiliki pasir putih dan lembut sehingga sangat cocok untuk berjemur atau hanya bermain-main di pasir dan juga pemandangan bawah laut yang begitu mempesona. 

maaf telat postingnya he..he...
Dapat bbm dari teman klo ni mlm ada gerhana bulan total yang diawali dengan 'Perkawinan' cakran Bulan dengan penumbra. menurut Ma'rufin Sudibyo selaku astronom bahwa gerhana bulan yang menjadi gerhana bulan total terakhir di tahun 2011 ini akan menghiasi langit Indonesia pada sabtu (10/12) malam. Meski dimulai sekitar pukul 6 sore, gerhana baru bisa terlihat oleh mata telanjang saat bulan bersentuhan dengan umbra sekitar pukul 19.46 WIB.
Ditambahkan oleh Ma'rufin, bahwa puncak pertunjukan terjadi sekitar pukul 21.07 dan berlangsung selama kurang lebih 50 menit. saat-saat seperti ini bulan akan berwana merah darah seperti di film-film wolfman. selain unik karena menjadi gerhana bulan terakhir di tahun 2011, gerhana bulan total ini juga bakal didampingi oleh Jupiter, gugus tujuh bintang bersaudara (pleiades), galaksi Awan Magellan besar dan kecil, serta bintang Sirus (salah satu bintang paling terang di jagad raya, menyaingi matahari). selain itu juga, bulan akan berada persis di depan galaksi Bimasakti. Di belakang bulan nanti bakal terlihat kabut tipis yang menandakan keberadaan salah satu galaksi tertua di jagad raya.
Setelah membaca isi BBMnya teman, kamera dan tripod pun sy siapkan untuk mengabadikan moment langka ini. namun cuaca malam ini tidak bersahabat, hujan membasahi tanah "Selayar heaven Park". hujan baru berhenti sekitar jam 21.20 namun awan tebal masih menutupi bulan. barulah sekitar pukul 22.15, bulan pun menampakkan dirinya. walaupun begitu, gerhana bulannya masih terlihat sampai sekitar pukul 23.00. lumayan bisa melihat secara langsung moment langka ini ^_^